$0D
Showing posts with label HUMOR. Show all posts
Showing posts with label HUMOR. Show all posts

26.10.11

TAYAMUM DI PESAWAT

Kiyai-kiyai NU pada umumnya menyatakan tayammum di pesawat terbang itu tidak sah, karena tidak ada "turaab" (tanah) sebagaimana disyaratkan madzhab Syafi'i, sedangkan kursi pesawat juga tidak termasuk yang dimaksud "maa 'alaa wajhil ardli" (benda-benda diatas bumi) menurut Maliki ataupun "maa min jinsil alrdli" (benda-benda dari bumi) yang dimaksud Hanafi.

Sebagian pembela praktek ini berargumen... bahwa mereka bermaksud mengambil guna "ghubaar" (debu) dari kursi pesawat. Tapi,

"Kursi pesawat itu sudah tidak ada ghubaarnya", kata Kiyai Yusuf Muhammad rahimahullah, "wong sudah dibersihkan pakai vacuum cleaner kok! Yang masih ada kemungkinan ditempeli ghubaar ya pramugarinya..."

Cuma, bagaimana nasib pramugarinya kalau dipakai tayammum orang satu pesawat?
"by Terong Gosong"

Timur Lenk Di Dunia

Timur Lenk Di Dunia

Timur Lenk masih meneruskan perbincangan dengan Nasrudin soal kekuasaannya. "Nasrudin! Kalau setiap benda yang ada di dunia ini ada harganya, berapakah hargaku ?" Kali ini Nasrudin menjawab sekenanya, tanpa banyak berpikir. "Saya taksir, sekitar 100 dinar saja" Timur Lenk membentak Nasrudin, "Keterlaluan! Apa kau tahu bahwa ikat pinggangku saja harganya sudah 100 dinar." "Tepat sekali," kata Nasrudin. "Memang yang saya nilai dari anda hanya sebatas ikat pinggang itu saja."

Timur Lenk Di Akhirat

Timur Lenk Di Akhirat

Timur Lenk meneruskan perbincangan dengan Nasrudin soal kekuasaannya. "Nasrudin! Menurutmu, di manakah tempatku di akhirat, menurut kepercayaanmu ? Apakah aku ditempatkan bersama orang-orang yang mulia atau yang hina ?" Bukan Nasrudin kalau ia tak dapat menjawab pertanyaan "semudah" ini. "Raja penakluk seperti Anda," jawab Nasrudin, "Insya Allah akan ditempatkan bersama raja-raja dan tokoh- tokoh yang telah menghiasi sejarah." Timur Lenk benar-benar puas dan gembira. "Betulkah itu, Nasrudin ?" "Tentu," kata Nasrudin dengan mantap. "Saya yakin Anda akan ditempatkan bersama Firaun dari Mesir, raja Namrudz dari Babilon, kaisar Nero dari Romawi, dan juga Jenghis Khan." Entah mengapa, Timur Lenk masih juga gembira mendengar jawaban itu.

Teka-teki Imam Al-Ghazali

Teka-teki Imam Al-Ghazali

Suatu hari, Imam Al-Ghazali berkumpul dengan murid-muridnya, lalu beliau bertanya ( Teka Teki ) :

Imam Ghazali: "Apakah yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini ?"
Murid 1: "Orang tua"
Murid 2: "Guru"
Murid 3: "Teman"
Murid 4: "Kaum kerabat"
Imam Ghazali: "Semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling dekat dengan kita ialah MATI. Sebab itu janji Allah bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati (Surah Ali-Imran :185).

Imam Ghazali: "Apa yang paling jauh dari kita di dunia ini?"
Murid 1: " Negeri Cina "
Murid 2: "Bulan"
Murid 3: "Matahari"
Murid 4: "Bintang-bintang"
Iman Ghazali: "Semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling benar adalah MASA LALU. Bagaimanapun kita, apapun kendaraan kita, tetap kita tidak akan dapat kembali ke masa yang lalu. Oleh sebab itu kita harus menjaga hari ini, hari esok dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Agama".

Iman Ghazali: "Apa yang paling besar didunia ini ?"
Murid 1: "Gunung"
Murid 2: "Matahari"
Murid 3: "Bumi"
Imam Ghazali: "Semua jawaban itu benar, tapi yang besar sekali adalah HAWA NAFSU (Surah Al A"raf: 179). Maka kita harus hati-hati dengan nafsu kita, jangan sampai nafsu kita membawa ke neraka."

Imam Ghazali: "Apa yang paling berat didunia?"
Murid 1: "Baja"
Murid 2: "Besi"
Murid 3: "Gajah"
Imam Ghazali: "Semua itu benar, tapi yang paling berat adalah MEMEGANG AMANAH (Surah Al-Azab : 72). Tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung, dan malaikat semua tidak mampu ketika Allah SWT meminta mereka menjadi khalifah (pemimpin) di dunia ini. Tetapi manusia dengan sombongnya berebut-rebut menyanggupi permintaan Allah SWT sehingga banyak manusia masuk ke neraka karena gagal memegang amanah."

Imam Ghazali: "Apa yang paling ringan di dunia ini ?"
Murid 1: "Kapas"
Murid 2: "Angin "
Murid 3: "Debu"
Murid 4: "Daun-daun"
Imam Ghazali: "Semua jawaban kamu itu benar, tapi yang paling ringan sekali didunia ini adalah MENINGGALKAN SHALAT. Gara-gara pekerjaan kita atau urusan dunia, kita tinggalkan shalat "

Imam Ghazali: "Apa yang paling tajam sekali didunia ini ?"
Murid- Murid dengan serentak menjawab: " Pedang "
Imam Ghazali: " Itu benar, tapi yang paling tajam sekali didunia ini adalah LIDAH MANUSIA. Kerana melalui lidah, manusia dengan mudahnya menyakiti hati dan melukai perasan saudaranya sendiri.

Tampak Seperti Wujudmu

Tampak Seperti Wujudmu

Nasrudin sedang merenungi harmoni alam dan kebesaran Penciptanya. "Oh Kekasih Yang Agung, seluruh diriku terselimuti oleh-Mu. Segala yang tampak oleh mataku. Tampak seperti wujud-Mu". Seorang tukang melucu menggodanya, "Bagaimana jika ada orang jelek dan dungu lewat di depan matamu ?" Nasrudin berbalik, menatapnya, dan menjawab dengan konsisten: "Tampak seperti wujudmu."

Susu dan Garam

Susu dan Garam

Nasrudin dan Ali merasa haus, mereka pergi ke sebuah warung untuk minum. Karena uang mereka hanya cukup untuk membeli segelas susu maka Mereka memutuskan membagi segelas susu untuk berdua.

Ali : “kamu minum dulu setengah gelas, Karena aku hanya punya gula yang hanya cukup untuk satu orang. Aku akan menuangkan gula ini ke dalam susu bagianku.”

Nasrudin : “Tuangkan saja sekarang dan aku akan minum setengahnya.”

Ali : "Aku tidak mau. Sudah kukatakan, gula ini hanya cukup membuat manis setengah gelas susu" akhirnya Nasrudin pergi ke pemilik warung dan kembali dengan sekantung garam.

Nasrudin : “Ada berita baik. Seperti telah kita setujui, aku akan minum susu ini lebih dulu. Aku akan minum bagianku dengan garam ini."

Sufi Menjual Kambing

Sufi Menjual Kambing

Suatu malam seorang ulama Sufi bermimpi bahwa ia sedang menjual seekor kambing yang gemuk. "Berapa harga kambing ini ?" tanya seorang calon pembeli. "Dua belas dinar." kata sang sufi. "Tujuh dinar." "Tidak boleh." "Delapan dinar." "Tidak boleh." Ketika tawaran mencapai sembilan dinar, sang sufi terbangun dari tidurnya. Ia membuka kelopak matanya dan mengusapnya. Tak seekor kambingpun ia lihat. Pun tak ada calon pembeli. Cepat-cepat ia memejamkan matanya lagi sambil berkata. "Kalau begitu, baiklah, sembilan dinar boleh kamu ambil."

Salah Terka

Salah Terka

Ada seorang pedagang tua meninggal dunia dan mewariskan harta yang melimpah pada anak satu-satunya. Namun karena kebodohan anak tersebut, dalam sekejap saja harta warisan tersebut telah habis. Tentu saja setelah kawan-kawannya tahu ia sudah jatuh miskin merekapun meninggalkannya. Ketika ia benar-benar miskin dan sebatang kara, pergilah ia mendatangi Nasrudin yang terkenal bijak dan dapat menolong orang yang terkena musibah. “Harta saya habis, dan kawan-kawan saya meninggalkan saya satu persatu,” kata anak tersebut. “Tolong katakan apa yang akan terjadi pada saya sekarang.” “Oh, jangan khawatir,”jawab Nasrudin. “Segalanya akan beres, dalam beberapa minggu ini”. Anak tersebut gembira bukan main, mendengar kata-kata Naasrudin. “Jadi saya akan kembali seperti semula?” tanyanya. “Oh, tidak. Bukan itu maksudku. Kau salah terka. Maksudku ialah dalam waktu yang tak lama lagi kau akan terbiasa hidup miskin dan terbiasa tak punya teman”. Anak: ??????????’’’’

Penyelundup

Penyelundup

Ada kabar angin bahwa Mullah Nasrudin berprofesi juga sebagai penyelundup. Maka setiap melewati batas wilayah, penjaga gerbang menggeledah jubahnya yang berlapis-lapis dengan teliti. Tetapi tidak ada hal yang mencurigakan yang ditemukan. Untuk mengajar, Mullah Nasrudin memang sering harus melintasi batas wilayah. Suatu malam, salah seorang penjaga mendatangi rumahnya. "Aku tahu, Mullah, engkau penyelundup. Tapi aku menyerah, karena tidak pernah bisa menemukan barang selundupanmu. Sekarang, jawablah penasaranku: apa yang engkau selundupkan ?" "Jubah," kata Nasrudin, serius

Pemuda Gambus

Pemuda Gambus

Abu Yazid sering pergi berziarah ke berbagai perkuburan. Suatu malam, ketika ia dalam perjalanan kembali dari berziarah, seorang pemuda bangsawan mendekat sambil memainkan gambus. Abu Yazid berujar, "Ya Allah, selamatkan kami." Mendengar kata-kata itu, pemuda tersebut mengangkat gambusnya dan memukulkannya ke kepala Abu Yazid, hingga melukai kepala Abu Yazid dan gambus itu sendiri pun patah.

Pemuda itu sedang mabuk dan tidak menyadari siapa yang dipukulnya. Abu Yazid kembali kepada para sahabatnya dan menunggu hingga pagi hari. Lalu ia memanggil salah seorang sahabatnya. "Berapa harga sebuah gambus?" tanyanya. Sahabatnya memberitahunya. Kemudian ia membungkus uang sejumlah itu dengan sehelai pakaian, menambahkan sepotong manisan, dan mengirimkannya kepada si pemuda.

Abu Yazid berpesan kepada kurirnya, "Katakan pada pemuda itu bahwa Abu Yazid memohon maaf. Katakan padanya bahwa aku berpesan, "Semalam engkau memukul aku dengan gambusmu hingga gambusmu itu patah. Terimalah uang ini sebagai ganti rugi, dan belilah gambus baru. Sedangkan, manisan ini adalah pelipur lara, untuk menghilangkan kesedihan dalam hatimu karena gambusnya patah"." Saat pemuda bangsawan itu menyadari apa yang telah ia lakukan, ia mendatangi Abu Yazid dan memohon maaf. Ia bertobat, dan banyak pemuda lain yang ikut bertobat bersamanya.

Nasrudin Memanah

Nasrudin Memanah

Sesekali, Timur Lenk ingin juga mempermalukan Nasrudin. Karena Nasrudin cerdas dan cerdik, ia tidak mau mengambil resiko beradu pikiran. Maka diundangnya Nasrudin ke tengah-tengah prajuritnya. Dunia prajurit, dunia otot dan ketangkasan. "Ayo Nasrudin," kata Timur Lenk, "Di hadapan para prajuritku, tunjukkanlah kemampuanmu memanah. Panahlah sekali saja. Kalau panahmu dapat mengenai sasaran, hadiah besar menantimu. Tapi kalau gagal, engkau harus merangkak jalan pulang ke rumahmu." Nasrudin terpaksa mengambil busur dan tempat anak panah. Dengan memantapkan hati, ia membidik sasaran, dan mulai memanah. Panah melesat jauh dari sasaran. Segera setelah itu, Nasrudin berteriak, "Demikianlah gaya tuan wazir memanah." Segera dicabutnya sebuah anak panah lagi. Ia membidik dan memanah lagi. Masih juga panah meleset dari sasaran. Nasrudin berteriak lagi, "Demikianlah gaya tuan walikota memanah." Nasrudin segera mencabut sebuah anak panah lagi. Ia membidik dan memanah lagi. Kebetulan kali ini panahnya menyentuh sasaran. Nasrudin pun berteriak lagi, "Dan yang ini adalah gaya Nasrudin memanah. Untuk itu kita tunggu hadiah dari Paduka Raja." Sambil menahan tawa, Timur Lenk menyerahkan hadiah Nasrudin.

Nasrudin dan Tiga Orang Bijak

Nasrudin dan Tiga Orang Bijak

Pada suatu hari ada tiga orang bijak yang pergi berkeliling negeri untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang mendesak. Sampailah mereka pada suatu hari di desa Nasrudin. Orang-orang desa ini menyodorkan Nasrudin sebagai wakil orang-orang yang bijak di desa tersebut. Nasrudin dipaksa berhadapan dengan tiga orang bijak itu dan di sekeliling mereka berkumpullah orang-orang desa menonton mereka bicara. Orang bijak pertama bertanya kepada Nasrudin, "Di mana sebenarnya pusat bumi ini?" Nasrudin menjawab, "Tepat di bawah telapak kaki saya, saudara." "Bagaimana bisa saudara buktikan hal itu?" tanya orang bijak pertama tadi. "Kalau tidak percaya," jawab Nasrudin, "Ukur saja sendiri." Orang bijak yang pertama diam tak bisa menjawab. Tiba giliran orang bijak kedua mengajukan pertanyaan. "Berapa banyak jumlah bintang yang ada di langit?" Nasrudin menjawab, "Bintang-bintang yang ada di langit itu jumlahnya sama dengan rambut yang tumbuh di keledai saya ini." "Bagaimana saudara bisa membuktikan hal itu?" Nasrudin menjawab, "Nah, kalau tidak percaya, hitung saja rambut yang ada di keledai itu, dan nanti saudara akan tahu kebenarannya." "Itu sih bicara goblok-goblokan," tanya orang bijak kedua, "Bagaimana orang bisa menghitung bulu keledai." Nasrudin pun menjawab, "Nah, kalau saya goblok, kenapa Anda juga mengajukan pertanyaan itu, bagaimana orang bisa menghitung bintang di langit?" Mendengar jawaban itu, si bijak kedua itu pun tidak bisa melanjutkan. Sekarang tampillah orang bijak ketiga yang katanya paling bijak di antara mereka. Ia agak terganggu oleh kecerdikan nasrudin dan dengan ketus bertanya, "Tampaknya saudara tahu banyak mengenai keledai, tapi coba saudara katakan kepada saya berapa jumlah bulu yang ada pada ekor keledai itu." "Saya tahu jumlahnya," jawab Nasrudin, "Jumlah bulu yang ada pada ekor kelesai saya ini sama dengan jumlah rambut di janggut Saudara." "Bagaimana Anda bisa membuktikan hal itu?" tanyanya lagi. "Oh, kalau yang itu sih mudah. Begini, Saudara mencabut selembar bulu dari ekor keledai saya, dan kemudian saya mencabut sehelai rambut dari janggut saudara. Nah, kalau sama, maka apa yang saya katakan itu benar, tetapi kalau tidak, saya keliru." Tentu saja orang bijak yang ketiga itu tidak mau menerima cara menghitung seperti itu. Dan orang-orang desa yang mengelilingi mereka itu semakin yakin Nasrudin adalah yang terbijak di antara keempat orang tersebut.

Nasib itu Tidak Bisa Dinalar Dengan Logika

Nasib itu Tidak Bisa Dinalar Dengan Logika

Nasrudin sedang berjalan-jalan dengan santai, ketika tanpa permisi ada orang jatuh dari atap rumah dan menimpanya. Orang yang terjatuh itu tidak terluka sama sekali, tetapi Nasrudin yang tertimpa malah menderita cedera leher. Ia pun diangkut ke rumah sakit.
Para tetangganya datang menjenguknya, mereka bertanya, "Hikmah apa yang didapat dari peristiwa itu, Nasrudin?"
"Jangan percaya lagi pada hukum sebab akibat," jawabnya. "Orang lain yang jatuh dari atap rumah, tetapi leherku yang jadi korbannya. Jadi tidak berlaku lagi logika, "Kalau orang jatuh dari atap rumah, lehernya akan patah!""

Manipulasi Deskripsi

Manipulasi Deskripsi

Nasrudin kehilangan sorban barunya yang bagus dan mahal. Tidak lama kemudian, Nasrudin tampak menyusun maklumat yang menawarkan setengah keping uang perak bagi yang menemukan dan mengembalikan sorbannya. Seseorang protes, "Tapi penemunya tentu tidak akan mengembalikan sorbanmu. Hadiahnya tidak sebanding dengan harga sorban itu." "Nah," kata Nasrudin, "Kalau begitu aku tambahkan bahwa sorban itu sudah tua, kotor, dan sobek-sobek."

Keledai Membaca

Keledai Membaca

Timur Lenk menghadiahi Nasrudin seekor keledai. Nasrudin menerimanya dengan senang hati. Tetapi Timur Lenk berkata, "Ajari keledai itu membaca. Dalam dua minggu, datanglah kembali ke mari, dan kita lihat hasilnya." Nasrudin berlalu, dan dua minggu kemudian ia kembali ke istana. Tanpa banyak bicara, Timur Lenk menunjuk ke sebuah buku besar. Nasrudin menggiring keledainya ke buku itu, dan membuka sampulnya. Si keledai menatap buku itu, dan tak lama mulai membalik halamannya dengan lidahnya. Terus menerus, dibaliknya setiap halaman sampai ke halaman Setelah itu si keledai menatap Nasrudin. "Demikianlah," kata Nasrudin, "Keledaiku sudah bisa membaca." Timur Lenk mulai menginterogasi, "Bagaimana caramu mengajari dia membaca ?" Nasrudin berkisah, "Sesampainya di rumah, aku siapkan lembaran-lembaran besar mirip buku, dan aku sisipkan biji-biji gandum di dalamnya. Keledai itu harus belajar membalik-balik halaman untuk bisa makan biji-biji gandum itu, sampai ia terlatih betul untuk membalik- balik halaman buku dengan benar." "Tapi," tukas Timur Lenk tidak puas, "Bukankah ia tidak mengerti apa yang dibacanya ?" Nasrudin menjawab, "Memang demikianlah cara keledai membaca: hanya membalik-balik halaman tanpa mengerti isinya. Kalau kita membuka-buka buku tanpa mengerti isinya, kita disebut setolol keledai, bukan ?"

Doa untuk si Mayit

Doa untuk si Mayit

Dalam perjalanannya menuju mesjid, Iring-iringan jenazah melewati seorang badui. Pemandangan ini membuat si badui merenung sejenak.
"Aku akan ikut sholatkan jenazah itu agar bila aku mati nanti orang juga tak segan menyolatkan aku," pikir si badui. Ia lalu mengikuti iringan jenazah itu memasuki mesjid. Setelah menyolatkan, ia kembali mengurus kerjaannya.
Malam harinya sang imam mimpi bertemu dengan si mayit. Ia tampak sangat bahagia.
"Bagaimana keadaanmu," tanya sang imam.
"Alhamdulillah, Allah telah mengampuni dosa-dosaku berkat doa si badui."
Keesokan harinya sang imam mencari si Badui. Setelah bertemu, ia bertanya, "Doa apa yang kau baca sewaktu sholat jenazah kemarin."
"Aku tidak membaca apa-apa," kata si Badui.
"Semalam aku mimpi bertemu dengan mayit yang kita sholatkan kemarin. Ia bercerita bahwa Allah telah mengampuni dosa-dosanya berkat doamu."
"Aku tidak berdoa apa-apa. Aku hanya berkata: Ya Alloh, sekarang ia adalah tamu-Mu. Kalau tamuku, tentu akan kusembelihkan seekor kambing."

10.5.11

Lucu lucuan Ker (Tiga Orang Ahli Surga)


Edisi kali ini membahas kisah lucu,hanya sekedar lucu lucu lucu lucuan ker, Ada Tiga orang pria telah meninggal dan mereka masuk surga.
Surga mempunyai peraturan bahwa setiap orang baik jahat maupun orang baik akan mendapat kendaraan yang pantas dengan perbuatannya.
saat nya Lelaki pertama pun tiba dan malaikat menanyainya, “Berapa tahun kamu menikah?”
Lelaki pertama pun menjawab, “20 tahun.”
Malaikat bertanya Lagi, “Berapa kali kamu mengkhianati istrimu?”
Lelaki pertama pun menjawab lagi, “5 kali.”
“Baiklah,” jawab sang malaikat, “Kamu boleh masuk, tapi hanya mendapat mobil Kijang.”
Lelaki pertama pun berlalu dengan Kijang nya.
Kenudian datang lah lelaki kedua. “Berapa tahun kamu menikah?”
Jawab lelaki kedua, “30 tahun mbah Malaikat.”
“Berapa kali kamu mengkhianati istrimu?”
“2 kali doang.”
“Lumayanlah… Kamu pantas mendapatkan mobil BMW.”
Tibalah kini lelaki ketiga datang dan malaikat pun mengajukan pertanyaan yang sama yang dijawab si lelaki ketiga, “50 tahun om malaikat.”
“Berapa kali kamu mengkhianati istrimu?”
“Tidak pernah sama sekali.”
“Luar biasa! Ini kunci untuk mobil Ferrari.”
Suatu hari, tatkala lelaki pertama dan kedua tadi sedang asik mengendarai mobilnya, mereka melihat lelaki ketiga tadi duduk di tepi jalan seraya menangis.
Mereka berdua pun menghampirinya dan bertanya “Kenapa kamu nangis? Belum puas dikasih Ferrari?”
Jawab lelaki ketiga sambil mengusap air matanya, “Tadi aku bertemu dengan istriku yang sedang naik sepeda…”

haha Tampaknya istrinya seorang penghianat,.,.
Get Paid To Promote, Get Paid To Popup, Get Paid Display Banner

 
Design by ABDUL QOHWAH | KOPLAK FAMILY